Tuesday, December 1, 2015

Tentang JK Rowling dan Karir Sang Iblis

Sebagai penikmat buku Harry Potter, tentunya aku mengikuti novel JK Rowling selanjutnya. Mulai dari buku "pendamping" serial Harry Potter (Quidditch dari Masa ke Masa, Hewan-Hewan Fantastic dan dimana mereka bisa ditemukan dll) juga Casual Vacancy. I love Casual Vacancy! Dengan tokoh sebanyak itu, semuanya memiliki ciri khas masing-masing yang jelas, seperti juga tokoh-tokoh di dalam serial Harry Potter yang semuanya berkarakter. Walaupun Casual Vacancy *oke* terus terang saja sulit dilihat poin ceritanya, tapi entah kenapa membawa daya tarik tersendiri.

Jujur ketika pertama tau bahwa JK Rowling menulis serial detektif dengan nama lain, aku underestimate banget. Ngga tertarik pokoknya! Cuckoo's Calling lewat begitu saja, sampai Silkworm pun baru aku baca awal 2015 ini gara-gara kehebohannya dan kebetulan gramedia sale 30% off.

Sampul Cuckoo's Calling alias Dekut Burung Kukuk yang beredar di Indonesia
pic diambil dari website Robert Galbraith
Sampul Silkworm atau dalam bahasa indonesia, Ulat Bulu.
juga diambil dari website Robert Galbraith

Trus pendapatku gimana? Cuckoo's Calling bagus, tapi ngga gimana banget. Silkworm awal dan pertengahan biasa saja, tapi endingnya aku sukaaaa! Mana lanjutannya? Mana???

Akhirnya setelah penantian yang singkat (soalnya baca Silkworm nya telat banget) muncullah Career of Evil (aku translate seenaknya sebagai Karir Sang Iblis, entah nanti judul bahasa indonesia nya apa). Tapi belum ada versi Indonesianya *iyalah*. Jadi gimana? Nekat aja baca versi aslinya? Dengan bahasa inggris seadanya, biasanya aku cuma baca novel young-adult yang ngga pake istilah aneh-aneh tapi aku sukaa~ Lah ini novel detektif ntar sok baca tapi ngga ngerti gimana? #parno #lebay

novel terbaru Robert Galbraith yang terbit oktober 2015.
Versi bahasa indonesia belum beredar (saat tulisan ini ditulis)

Untungnya ngga dong. Apalagi kalau sudah baca seri sebelumnya, udah ngerti lah gaya bahasanya. Tapi disini aku tetep berhati-hati membaca tiap kalimat, literally sentence-by-sentence, karena ngga mau kelewatan apapun. Nama pun novel detektif ya, bikin penasaran ikutan nebak pelakunya hehe..

Alur ceritanya memakai alur maju yang ditulis dengan sangat menarik. Pokoknya pengen cepet-cepet lanjut dan lanjuuuut!

Di tengah-tengah buku, aku sempat main ke instagram book lovers yang memakai hashtag #CareerOfEvil. Salah satunya bilang "hope you enjoy the climax". Wow! Ada apakah di klimaks cerita? Apakah aku langsung kebut baca bukunya? Ngga. Malah makin takut kelewat sesuatu. Makin pelan dan lamaaa.. Aku baru selesai membaca novel ini di hari ke-10. Sangat lama untuk standar ku yang biasanya pengen buru-buru selesai baca.

Jadi bagaimana kah klimaks buku ini?

*Light Spoiler Alert*

Untuk jalan cerita yang sangat menarik, jujur menurutku klimaksnya kurang "nendang". Kok ya cuma begitu. Ngga mendebarkan seperti awal dan pertengahan buku. Pelaku nya pun sebenarnya bisa siapa saja. Semua suspect memiliki kesempatan dan motif, walaupun salah satu nya tereliminasi dengan clue di tengah buku. Sebagai pembaca aku cukup kecewa.. Cuma begitu saja, tidak ada "AHA moment" yang bikin aku merasa "ooooh begitu!"
Ngga ada motif khusus seperti dalam Silkworm, ngga ada alasan khusus. Sepertinya dia pelakunya hanya karena dia (kebetulan) pelakunya. Dua lainnya juga bisa kok, mereka punya kemampuan dan alasan yang kuat.

*end of spoiler*


Dalam buku ini, untungnya banyak poin menarik yang dibahas. Misalnya masa lalu Robin, masa lalu Strike dari sisi ibunya dan teman masa kecil Strike yang terbukti sangat berguna (tapi kenapa belum pernah muncul sebelumnya?).

Dengan banyaknya tokoh, seperti dalam serial Harry Potter dan Casual Vacancy, beberapa tokoh yang aku harap muncul kembali ternyata tidak muncul. Misalnya adik Strike dari sisi ayahnya yang menikmati membantu Strike dalam akhir Silkworm, entah kenapa tidak muncul sama sekali di novel ini. Padahal kasus kali ini sangat menarik perhatian media jadi sulit terlewatkan.

Di buku ini, Roberth Galbraith aka JK Rowling juga menulis dari sudut pandang Si Iblis. POV ini belum pernah ada di buku sebelumnya dan cukup membuat bulu kuduk berdiri karena pikiran-pikiran jahatnya. Namanya juga iblis ya :p

Di akhir buku, tetep ya, Roberth menyisipkan detil kecil yang membuat pembaca (AKU) penasaran dengan buku selanjutnya. Semoga ngga lama deh.

Semoga juga versi indonesia nya segera terbit ^^

cheers,

Follow on Bloglovin

instagram @taniaasvs

selling beauty stuff and everything in between @Primafacie_Corner

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...